Betulan!
Saya benci sama Andrea Hirata!
Waktu mama saya minta dibelikan bukunya 3 buah sekaligus, Laskar Pelangi, Sang Pemimpi dan Edensor, gara-gara nonton Andrea Hirata di Kick Andy, saya langsung tau saat itu juga, kalau itu adalah buku-buku yang -sebisa mungkin- saya hindari seumur hidup saya!
Saya punya kebiasaan buruk terharap buku-buku cerita yang membius. Cukuplah kegilaan saya dengan Harry Potter the series dan Kungfu Boy yang saya selalu kejar setiap muncul edisi terbarunya, dan setelah itu saya berkata pada diri sendiri : ENOUGH! CUKUP!!!
Kegilaan yang saya maksud bukan hanya sekadar saya mengejar judul terbaru, tapi yang lebih parah lagi…
Saya suka larut dalam ceritanya. Damn!
Maka ketika ibu saya betul-betul saya belikan buku itu lebih dari setahun yang lalu, saya tidak pernah tergoda sedikitpun untuk mengintip isinya. Apalagi waktu ibu saya benar-benar tidak tidur sampai pagi untuk membaca ketiga buku itu sekaligus -yup, I inheret her book addiction, penyakit gila nomor 42 mungkin menurut bang Andis- saya makin tidak kepingin membacanya.
Semua orang di berbagai milis, blog, dan media televisi mengelu-elukan karya Andrea. tapi semua puji-pujian itu tidak pernah menggentarkan hati saya dan menggerakkan tangan saya membuka lemari buku dan meraih buku-buku tersebut untuk kemudian membacanya.
Bahkan ketika film Laskar Pelangi dibuat, saya dengan suka cita ikut menonton… saat film itu hampir ‘turun’ tayang, kira-kira lebih dari 2 minggu diputar di bioskop. Saya tidak mau ikut bersama ratusan orang, mengantri film tersebut sampai kehabisan karcis, dan kemudian menunggu antrian untuk jam selanjutnya. Tidak, saya sudah terlalu tua untuk terbius dengan hal-hal semacam itu. Biar saja saya dibilang tidak uptodate. Saya hanya akan menonton saat hampir smua orang di Jakarta sudah menonton film tersebut!
*******************************
Minggu lalu saya liat unduk mulai membaca Edensor yang tergeletak begitu saja di ruang sebelah, bekas dibaca kakak yg malas menaruh kembali ke lemari buku. Agak ganjil melihat Unduk membaca fiksi, tapi saya masih cuek saja. Pun ketika Unduk membaca “Sang Pemimpi”, dia tampak asik tenggelam di pojok kasur, duduk menyandar ke tembok sambil berselonjor kaki. Saya juga masih cuek saja.
Dan kesialan itu pun akhirnya datang.
Iseng-iseng saat Unduk tidur, saya membuka halaman “Sang Pemimpi” yang ada pembatas bukunya. Mungkin disitu terakhir Unduk baca.
Halaman yang saya buka adalah bab berjudul “SPIDERMAN”. Yup, teman-teman yang sudah pernah membaca buku ini pasti langsung tersenyum atau tergelak-gelak tertawa kalau mengingat isi babnya.
Pelan-pelan dengan mengenyahkan rasa skeptis saya membacanya. Alinea demi alinea. Halaman demi halaman. Dan tepat diujung bab, saya tertawa sekeras-kerasnya!
Bang Andis gilaaaaaaaaaaaa….
Dan (akhirnya) saya juga
Begitu dua halaman saya membaca, saya langsung sadar bahwa saya menyukai gaya tulisannya. Gaya sastra melayu yang dulu lazim saya temui jaman karya-karya sastra angkatan balai pustaka dan semacamnya, tapi dikemas dalam bentuk yg lebih modern, dengan istilah-istilah yang baru.
Dan saya suka sekali gaya sarkastis-nya yang kental! Entah kenapa saya lebih suka orang yang menulis dengan gaya yg sarkas dan sinis. Mungkin karena saya orangnya seperti itu
atau mungkin ya karena lebih memberi warna dan emosi dalam bercerita
Akhirnya saya membuka satu persatu bab “SANG PEMIMPI” dari awal sampai akhir. Saya dibuat menangis, tertawa, dan menangis kembali, dan tertawa kembali, dan menangis lagi. Dia campur adukkan emosi saya, dan pelan-pelan dia kenalkan saya dengan satu sosok : ARAI
Dalam bukunya bang Andis selalu meng-edifikasi ARAI, kental betul pemujaan beliau terhadap sosok ini walaupun kadang kata-kata yang digunakan lebih banyak mencela daripada memuji. Tapi inilah pangkal mulanya kenapa saya benci sama bang Andis.
Semakin sering bang Andis mengedifikasi Arai, semakin lekat pula rasanya sosok Arai di hati saya. Saat Arai menangis, saya pun menangis. Saat Arai melucu, saya pun tertawa. Saat Arai sakit, rasanya saya ingin ada disana memeluk Arai.
Ugh… puncaknya adalah : kok semalam saya jadi mimpi tentang Arai yaaaaa??? Huaaaaaaaaaa!!!
Inilah efek buruk membaca buku membius yang mati-matian saya hindari sejak dulu. Untuk catatan, saya pernah bermimpi tentang : Harry Potter, Chin Mi, dan yang paling parah… Waktu SD saya juga pernah jatuh cinta dengan LUPUS sampai-sampai saya mimpi ketemu dia! Idiiiiiiiihhhh…
Karena itu Bang… saya jadi makin benci sama Abang. Pokoknya Abang harus bertanggung jawab! Kalau nanti Abang jumpa bang Arai, bilang sama dia, saya penggemarnya.
Eh bukan…
Bilang saja sama Bang Arai, kalau saya jatuh cinta sama dia^_^ *blushing*
tulisan ini saya masukkan kategori curhat dan bukan resensi, karena sedari awal memang saya kepingin curhat. Ah, Arai…
Posted in curhat |













March 23rd, 2009 at 9:40 pm
wakakakaka, miaaa… siapa sih si arai meni tergelo-gelo gitu, jadi penasaraan.. gawattsss… tidaks saya sedang banyak pe-er dilarang baca buku fiksi duluuuu
March 23rd, 2009 at 11:59 pm
aneh,alasan kamu gak suka Andrea Hirata itu menurutku aneh,
ah, gak tau lah, prespekti orang emang beda-beda.
March 24th, 2009 at 5:57 am
Hahahahaha.. kualat ya Mi
March 24th, 2009 at 11:16 am
# teh Ade
iya Teh… huhuhu… sekarang napsu ngejar maryamah karpov. I miss my Arai T_T
March 24th, 2009 at 1:17 pm
ups ada yg lupa.
saya juga pernah jatuh cinta gila-gilaan sampe kebawa MIMPI, pada CHIBI… itu lho, yg di komik POPCORN klo gak salah.
*penyakit gila no 32*
March 24th, 2009 at 8:11 pm
@ Kira tomy,
wah Tom berarti dirimu tidak membaca tulisanku dengan baik
March 24th, 2009 at 9:29 pm
Uhmm… jadi ini penyebab Teh Mia tak mau diganggu kemaren… :))
Ternyata Mimpiin Arai *sosok yang imajiner*
March 26th, 2009 at 12:21 pm
justru itu yg bikin menarik Teek… kalo bang Ikal kan daku dah liat penampakannya krn fotonya tersebar dimana-mana hehehe….
March 26th, 2009 at 11:29 pm
he he he sesama pecinta Harry Potter toh. Ane juga tergila - gila sama bang Harry, LOTR, and of course TRIO DETECTIVE, bacaan anak - anak jadul (jaman dulu). Kuch Kuch hota hai juga hayuuuuu…
puncaknya my honey boney nguamuuukkkk mergokin aku baca en nonton yang di atas ntu untuk yang kesekian ratus kalinya. he he he. abis suka siiihhhh.
March 28th, 2009 at 1:42 pm
di mimpi ngobrol pa aja ma Arai?
March 29th, 2009 at 6:07 pm
saya juga membencinya
March 29th, 2009 at 7:23 pm
ada deeehhhhh….
mau tauuuu aja ^_^
March 31st, 2009 at 8:35 am
gmn maryamah karpov nya
cenah ga serame edisi 1,2 dan 3 nya?
soalnya ceritanya ga nyambung dan ngegantung-gantung
April 3rd, 2009 at 11:17 am
maryamah karpov, kayanya bang Andis sempet trance tuh waktu nulisnya hehehe… ada yg lucu banget, ada yg rame, tp emang kalo baca laskar pelangi ama maryamah karpov, bener gak nyambung ceritanya…
ngegantung belakangnya doang kok… endingnya dibikin gantung tp bagus, rencanaya kan ada 2 buku maryamah karpov *klo baca di MP-nya*
April 3rd, 2009 at 11:17 am
eh aku baca dalam waktu 4,5 jam langsung kelar tuh Nik maryamah karpov
April 29th, 2009 at 10:16 pm
kadang kita merasa pintar, merasa lbh dr segalanya pdhal ada langit di atas langit. tetralogi laskar pelangi tdk sm dg harry potter. 4logi LP adl nonfiksi yg disampaikn dg cr fiksi. pembelajaran yg bgs u kita agar tdk sombong.
May 1st, 2009 at 11:47 pm
*keprok tangan buat Evi*
May 15th, 2009 at 1:54 am
damn!!! gw dibeliin lengkap ama PH tuh seri, dah demi penyakit gila yang elo sebutkan di atas, buku2 itu masih rapi jali dibungkus plastik